hehehehehe... anti korupsi... susaaaahhhhh neng...
- Tiap kegiatan harus setor ke dinas/instansi 10%
- Honor dan lembur di atur antara kepala seksi dengan bendaharanya.
- Gimana mau bagus hasil kegiatannya, 10% dah setor ke dinas katanya untuk koordinasi, honor dipotong juga 10%, belum honor yang di "patpatgulipat" tandatangan 500rebu, keterima cuman 200rebu... belum SPJ aspal, kuaitansi dan bon aspal (yang penting ber NPWP... hehehe lucu deh...), gimana nga akan bermasalah dengan kejaksaan, BPK, atau institusi pemeriksa lainnya, kalau uang untuk kegiatan sudah habis untuk dikorupsi... pantaslah... makanya potong tuh lingkaran setannya.
- lelang diatur biar dapet uang japrem, kalau nga diaturpun yang menang tetap diminta uang, uang dinaslah, buat kejaksaan lah, buat apalah... yang jelas buat korupsi...
- beda pendapat dengan atasan biar dinas bersih dari korupsi??resikonya; mau dipindah ke kelurahan terpencil!!!??? gitulah budaya feodal yang masih membabi buta, saya keponakan ini, saya kakak ipar kang sekda, saya anunya ini... halah yang jelas... anda tidak punya kemampuan dan kepantasan jadi pejabat, kemampuan anda hanya "feodalisme"
- BKD (badan kepegawaian daerah) atau apapun istilahnya, nga ada papanya, kalau mau pindah tinggal bayar, kalau pejabat mau mindahin karyawan yang tidak cium tangannya dan menjilat bokong pejabat, tinggal bikin disposisi saja, pindahkan ke kelurahan paling pojok :)
- Bapak Haji Anuini... halah sudah haji tapi kelakuan kaya calo terminal,
pejabat yg sudah haji : hallo pa haji gimana nih proyek ini ada yang nyanggah, gimana nih biar kondusif
pejabat yg sudah haji juga: oh coba deh suruh panitianya ke kantor saya yah ji... nanti kita aturlah biar kondusif...
halah hajiiii.... hajiiii... kalau lupa aja nulis gelar hajinya... nga bakalan di tandatangan tuh :)
haji lebay siah!!!